Kamis, 02 Januari 2014

Muslim Sejati Tak Ragu Soal Rizki

AWAL tahun 2014 dunia diperhadapkan dengan berbagai macam situasi dan prediksi tak menentu, utamanya dalam hal ekonomi (rizki). Hal ini didasarkan pada beberapa isu keuangan dimana nilai mata uang rupiah terus mengalami penurunan terhadap dolar.
Khawatir tentu bukan sikap yang keliru. Karena khawatir atau takut itu merupakan bagian dari fitrah manusia. Tetapi, sebagai Muslim kita tidak boleh berlebihan dalam menyikapi berbagai macam isu yang muncul di media bahwa akan terjadi ‘kekacauan’ ekonomi, sehingga terbesit niat negatif.
Andaikata isu itu terbukti, sebagai Muslim kita tetap harus pada ke-Islam-an kita dengan penuh kesungguhan. Sebab, Allah yang Maha Memelihara alam ini tidak mungkin akan membinasakan hamba-hamba-Nya yang benar-benar beriman.
Tetaplah menjadi Muslim yang beriman dan bertakwa, jujur, bekerja secara profesional, penuh tanggung jawab dan perkuat niat mencari nafkah untuk jihad fi sabilillah bukan bermegah-megahan. Sebab rizki yang didapat dengan peras keringat, penuh daya dan upaya, lagi halal, sungguh amat dicintai Allah dan Rasul-Nya.
Hindarilah berbagai macam spekulasi yang bisa mendorong lemahnya akal untuk berfikir jernih di atas landasan iman. Jauhi pemikiran-pemikiran dangkal yang bersumber dari angan-angan kosong. Atau prasangka-prasangka yang membuat hati was-was, ragu dan bingung, sehingga lupa bahwa Allah pasti akan menolong hamba-Nya.
Tawakkal Kepada Allah
Persoalan ekonomi (rizki) sesungguhnya perkara mutlak yang telah Allah tetapkan bagi setiap manusia, baik dia beriman maupun kafir.
Artinya, sebagai Muslim, hendaknya kita tidak terpengaruh dengan isu apa pun. Sekalipun ada fakta bahwa ekonomi bangsa akan mengalami masalah, hal itu harus menjadi media penting untuk semakin memperkuat iman dan takwa dengan bertawakkal kepada Allah Ta’ala.
Karena sebelum ada prediksi macam-macam dari dunia kekinian tentang ekonomi dan lain sebagainya, secara Ilahiyah kehidupan setiap Muslim pasti akan berhadapan dengan kesulitan berupa; sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan.
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوفْ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الأَمَوَالِ وَالأنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS: al-Baqarah [2]: 155).
Dengan demikian maka, kesulitan atau pun ketakutan akan sesuatu dan kekurangan terhadap sesuatu sudah menjadi bagian dari kehidupan setiap Muslim. Jadi, untuk apa kita ragu, gelisah, bingung dan kalut?
Tetaplah dalam iman dan takwa dengan benar-benar bertawakkal kepada-Nya.
وَعَلَى اللّهِ فَتَوَكَّلُواْ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ
“Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (QS. Al-maidah [5]: 23).
Dalam ayat lain Allah tegaskan,
قُل لَّن يُصِيبَنَا إِلاَّ مَا كَتَبَ اللّهُ لَنَا هُوَ مَوْلاَنَا وَعَلَى اللّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ
“Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.” (QS. At-Taubah [9]: 51).
Kuatkan Keyakinan Kepada Janji Allah
Imam Ghazali dalam kitab terakhirnya, Minhajul Abidin mengutip pernyataan indah Sayyidina Ali Karamallahu Wajhah; “Engkau mencari rizki Allah dari sisi selain-Nya. Engkau merasa itu akan membuatmu aman dari waktu dan kemalangan. Engkau bisa percaya pada jaminan orang lain meski ia kafir, tapi engkau tak percaya dengan jaminan rizki yang diberikan oleh Allah. Engkau nampaknya tidak membaca apa yang tertulis di dalam Kitabullah (mengenai rizki), sehingga imanmu lemah dan goyah (dalam mempercayai janji Allah).”
Dengan kata lain, semakin sulit situasi kehidupan dunia ini maka harusnya semakin mendorong diri untuk lebih giat dalam membaca, mengkaji, mentadabburi, mentafakkuri dan menggali makna-makna penting yang tersembunyi dari setiap barisan ayat-ayat suci-Nya.
Jika tidak, maka kita akan terombang-ambing isu kekinian yang sebenarnya hanya bersifat sementara. Sementara, kehidupan kita adalah kehidupan yang harus benar, lurus, tegak di atas nilai iman dan Islam dalam situasi dan kondisi apa pun.
Untuk itu, meyakini janji Allah adalah perkara mutlak. Dan, meyakini janji Allah itu mustahil akan semakin terpatri dalam diri kita, bila kita tidak benar-benar ‘akrab’ dengan al-Qur’an.
Pahamilah, Rizki itu Sudah Ditetapkan
Dalam Minhajul Abidin Imam Ghazali mengutip satu hadits Nabi, “Sudah tertulis di punggung ikan dan banteng tentang rizki si fulan. Maka orang yang tamak tidak akan mendapatkan tambahan selain kepayahannya.”
Hadits ini memberikan petunjuk bahwa setiap Muslim jangan terjebak bujuk rayu nafsu dan setan. Rizki itu sifatnya pasti, selama ada kehidupan maka pasti ada rizki. Tamak alias rakus hanya akan menghasilkan kepayahan.
Lihatlah ke penjara, betapa mereka yang dulu tersenyum karena bisa korupsi, kini menangis dan bersedih hati. Sekiranya mereka jujur, tentu tidak perlu menghabiskan masa tuanya dalam penjara. Semua itu adalah bukti bahwa rakus hanya akan membawa pelakunya pada penderitaan.
Bahkan, Imam Ghazali menyampaikan nasehat gurunya, “Sesungguhnya apa yang ditakdirkan sebagai makanan yang engkau kunyah, maka tidak akan dikunyah oleh orang lain. Maka, makanlah bagian rizkimu itu dengan mulia, jangan engkau memakannya dengan hina.”
Jadi, mari siapkan diri dan keluarga kita untuk semakin dekat kepada Al-Qur’an, sehingga semakin kuat iman dan takwa kita kepada-Nya, semakin kokoh ketawakkalan kita kepada-Nya. Karena hanya dengan itulah, kita akan semakin percaya diri menjadi Muslim.
Semakin sulit kehidupan dunia harus mengantarkan kita dan keluarga untuk semakin yakin kepada janji Allah, termasuk soal rizki. Karena hakikat hidup ini hanyalah untuk beribadah kepada-Nya (QS. 51: 56).
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ
“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk [67]: 2).
Apa pun yang terjadi, suka atau duka, hakikatnya satu, yakni hanya ujian. Maka tetaplah dalam keyakinan penuh atas segala janji Allah dengan tetap melakukan amal-amal yang terbaik di sisi-Nya.

www.hidayatullah.com

Rabu, 01 Januari 2014

Kalimat yang Mendatangkan Keselamatan Umat Manusia

PERNAHKAH Anda mendengar, “kalimat pembawa keselamatan”? Ia adalah kalimat pembeda orang Muslim dan orang kafir. Kalimat ini hanya diyakini orang-oranng Muslim saja.
Mungkin di antara kita bertanya, kalimat seperti apa yang dapat mendatangkan keselamatan? Ia adalah, “La ila hailallaah wa Anna Muhammad darasulullah (Tiada Tuhann yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad Utusan Allah)”
Umat Muslim, tentunya ingin tahu apa yang menyebabkan dirinya yakin akan keistimewaan kalimat ini.
Dari kalimat tersebut, tentu dapat dipahami bahwa yang menyebabkan umat Muslim yakin akan keistimewaan  kalimat ini  adalah iman.
Sebagaimana petunjuk yang terdapat di dalam al-Quran Surah al Anfal ayat 2;
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَاناً وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
“Sesungguhnya orang- orang yang beriman itu apabila disebut nama Allah gemetarlah hatinya, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatnya, bertambahlah iman mereka dan kepada tuhanlah mereka bertawakal.”
Apa Itu kalimat La Ila Hailallah Muhammadarasulullah?
La Ilaha Ilallah Muahammadarasulullah dengan bahasa sederhana adalah di antara kategori Kalimat Thayyibah (Kalimat yang Baik), karena di dalamnya mengandung ucapan pengakuan keesaan Allah dan Rasulnyaserta bermakna keyakinan dalam mengagungkan kebesaran Allah.
Ada banyak ragam Kalimat Thayyibah antara lain: Basmallah, Ta’awudz, Takbir, Tasbih, Tahlil, Tarji’ dan lain-lain.
Kalimat La Ila Hailallah Muhammadarasulullah merupakan syarat sah-nya orang yang berkeinginan memeluk agama Islam dan menjadi penyelamat bagi mereka yang mengikrarkannya.
Sebagaimana hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh Ahmad, “Barangsiapa yang menerima dariku satu kalimat yang pernah aku sampaikan kepada pamanku (Abu Thalib, saat menjelang wafatnya ), sedangkan ia menolaknya maka kalimat itu (Akan menjadi sebab) keselamatan baginya.”
Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim juga dicantumkan akan keistimewaan kalimat thayyibah tersebut.
“Dari ibnu Syimasah al Mahri, ia menceritakan: kami menjenguk Amr bin Ash r.a ketika ia dalam sakratul maut, dan ia menangis lama sekali sambil memalingkan wajahnya kearah dinding. Lalu puteranya menghiburnya dengan berkata, ‘Bukankah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam telah memberimu kabar gembira? Kemudian ia menghadap kami dan berkata, ‘sesungguhnya perkara yang paling utam yang kita siapkan (untuk diri kita sendiri) adalah bersaksi bahwasanya Laa ilaaha illallah wa anna Muhammadar Rasulullah (tiada yang berhak disembah selain Allah dan sesunggunya muhammada adalah utusan Allah). Sesungguhnya Aku telah melalui tiga zaman (Semasa hidup beliau). Dan sesungguhnya aku mengetahui bahwa tidak ada orang yang paling benci terhadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam dan tidak ada yang lebih aku inginkan selain bertemu beliau sehingga aku dapat membunuhnya. Sandainya aku mati dalam keadaan demikian niscaya aku termasuk dalam golongan ahli neraka. Kitika Allah memasukkan Isalam kedalam hatiku , aku segera mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam dan berkata, ‘Ulurkan tangan kananmu supaya saya dapat berbai’at kepadamu. Maka beliau mengulurkan tagan kanannya. Amr bin Ash melanjutkan, tetapi ketika itu aku menarik balik tangan ku.’ Beliau kembali bertanya, ‘Ada apa denganmu , wahai Amr?’ Aku berkata, ‘Aku ingin mengajukan persyaratan. ’Beliau bertanya, persyaratan apa yang kamu inginkan?’ Aku menjawab, ‘(Syaratnya yaitu) supaya dosa-dosa ku diampuni.’ Beliau bersabda, ‘Tidakkah engkau tahu bahwa Islam menghapus dosa dosa yang terjadi sebelumnya, dan hijrah juga menghapus dosa dosa yang terjadi sebelumnya. Maka setelah itu tidak ada yang aku cintai selain Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam. Oleh karena itu saya tidak sanggup mengangkat muka untuk menatapnya karena kecintaanku kepada beliau, dan jika aku diminta untuk menggambarkan bentuk rupanya, aku tidak dapat melakukannya karena aku tidak pernah menatapnya. Sekiranya aku mati dalam keadaan demikian, aku berharap akan termasuk dalam golongan ahli surga. Kemudian kami kembali melakukaan urusan masing masing, sedang aku tidak mengetahui bagaimana keadaanku saat itu. Oleh karena itu apabila aku mati, janganlah jenazahku diiringi oleh wanita-wanita peratap dan pembawa api. Apabila kalian selesai menguburkan jenazahku, maka taburkanlah tanah diatas kuburanku, kemudian berdirilah beberapa saat desekeliling kuburanku selama masa disembelihnya seekor unta dan dibagikan daginggnya, sehingga aku merasa terhibur oleh kalian, sementara itu aku memikirkan jawaban apa yang mesti aku berikan kepada utusan-utusan Rabbku (malikat-malaikat yang bertanya didalam kubur) .”
Begitu istimewanya kalimat ini, cobalah Anda bayangkan apa yang akan terjadi apabila Anda bukanlah termasuk orang-orang yang mengikrarkan dan meyakini kalimat  (Thayyibah) ini?
Sudah barang tentu Anda akan terhindar dari keselamatan baik, keselamatan di alam fana, lebih-lebih lagi keselamatan di yaumil akhir kelak.
Maka sebagai Muslim tentulah timbul pertanyaan sebenarnya makna apa yang  terkandung dalam kalimat  ini (Thayyibah)? dan bagaimana pula kalimat ini dapat menyelamatkan manusia? 
Tentu, kalimat “Laa ilaaha illallah wa anna Muhammad darasulullah” memiliki makna yang sangat luas. Maka boleh jadi asbab terciptanya alam semesta ini baik itu di langit maupun dibumi, yang fana dan yang ghaib, adalah karena adanya kalimat (thayyibah) ini.
Apakah kalimat ini hanya bermanfaat bagi mereka yang beriman saja? Benar, kalimat ini hanyalah diperuntukkan kepada mereka yang yakin dan  mengikrarkannya. Bahkan orang yang berdosa sekalipun apabila ia meyakini dan mengikrarkannya maka keselamatanlah yang akan diperolehnya.
Ini pun sejalan dengan apa yang dimaktubkan  oleh utusan Allah Subhanahu Wata’ala. Yang diriwayatkan oleh Bukhari.
“Dari Abu Dzar bersabda Rasull Tidaklah seorang hamba Allah  yang mengucapkan Laa Ilaaha Illallah waanna Muhammadar Rasulullah kemudian ia mati dengan kalimat itu melainkan ia pasti masuk surga.” Saya bertanya, “Walaupun ia berzinah dan mencuri?” Beliu menjawab, walaupun ia berzinah dan mencuri.” Saya bertanya lagi, “Walaupun ia berzinah dan mencuri?” Beliau menegaskan, “Walaupun ia berzinah dan mencuri, meskipun Abu Dzar tidak menghendaki (Tetap hal itu akan terjadi).”
Adapun maksud, “Meskipun Abu Dzar tidak menghendaki” yakni Abu Dzar merasa heran, bagaimana bisa orang yang berbuat dosa besar (dalam hal ini berzinah dan mencuri) mendapatkan  jaminan surga? Bahkan menurut tuntuan keadilan selayaknya dia mendapat siksa atas dosa-dosanya. Demi mentiadakan keheranan Abu Dzar  maka Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassallam menegaskan “Walaupun Abu Dzar tidak setuju, orang semacam itu tetap akan dijamin masuk surga.”
Melalui hadits ini, menjadi ‘terang benderang’ bagi kita, bahwa kalimat Laa ilaaha illalaah wa anna Muhammadar Rasulullah (Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah) memberikan keselamatan dunia dan akhirat bagi mereka yang mengimaninya dan mengikrarkannya dengan sungguh-sungguh.

Sumber : www.hidayatullah.com