KEBANGGAAN IMAN
Di dalam buku
Ma’aalim Fith-Thoriq (Petunjuk Jalan) Sayyid Qutb menulis bab khusus
dengan judul Kebanggaan Iman. Bab ini menegaskan bahwa orang beriman
adalah manusia yang senantiasa menjalin hubungan keimanan yang kuat
dengan Rabb-nya, Allah subhaanahu wa ta’aala. Dan jalinan hubungan
imannya yang kuat dengan Allah subhaanahu wa ta’aala menyebabkan dirinya
menjadi manusia yang bermental kokoh.
Ia tidak pernah merasa hina atau bersedih hati. Malah sebaliknya ia
selalu merasakan ketinggian dan kemuliaan di dalam hidupnya karena
dirinya tersambung dengan Allah Yang Maha Mulia dan Maha Tinggi. Inilah
yang dimaksud oleh Sayyid Qutb dengan Kebanggaan Iman.
Bab ini
terasa sangat penting jika dikaitkan dengan realitas dunia modern yang
penuh fitnah. Suatu dunia yang justeru menawarkan berbagai kebanggaan
palsu. Ada kebanggaan harta, kebanggaan tahta dan jabatan, kebanggaan
teknologi, kebanggaan intelektual-formal, kebanggaan popularitas dan
kebanggaan-kebanggaan duniawi lainnya. Semua bentuk kebanggaan palsu
tersebut tidak ada kaitan dengan iman kepada Allah subhaanahu wa
ta’aala. Sehingga menurut kajian Kebanggaan Iman bentuk-bentuk
kebanggaan duniawi itu hakikatnya sangat lemah dan rapuh. Bahkan
bersifat hina dan tidak berarti di mata Allah subhaanahu wa ta’aala.
Orang yang merasakan kemuliaan dan ketinggian hanya karena berbagai
kebanggaan duniawi adalah orang-orang yang tertipu. Boleh jadi ia tampil
dengan self-confidence (percaya-diri) yang tinggi sewaktu masih di
dunia. Tetapi di akhirat kelak ia akan menyadari bahwa ia telah
terpedaya. Sehingga ia akan menyesal telah membanggakan diri dengan
kebanggaan-kebanggaan palsu. Itulah penyesalan yang sangat terlambat dan
tentunya tiada berguna.
Syetan sangat cerdik menipu manusia
dengan berbagai kebanggaan duniawi. Syetan menyuruh manusia agar jangan
peduli dengan kebanggaan iman sebab itu adalah perkara yang terlalu
abstrak dan tidak dapat dilihat secara langsung. Sementara itu
kebanggaan duniawi bersifat kongkrit dan mudah terukur. Sehingga
muncullah gelombang manusia yang masuk ke dalam perangkap syetan.
Kalau yang terperangkap adalah manusia awam yang jahil akan agamanya
kita tentu prihatin, tetapi masih dapat memahaminya. Ironisnya, dewasa
ini kita menyaksikan mereka yang terjerat tipuan syetan adalah
orang-orang yang dikenal khalayak ramai sebagai orang-orang yang biasa
ikut pengajian dan tarbiyyah, bahkan para ustadz dan ahli ilmu
syar’iyyah Islamiyyah. Mereka adalah orang-orang yang semestinya tampil
mengarahkan masyarakat luas agar mensyukuri dan mempertahankan
Kebanggaan Iman. Alih-alih melaksanakan kewajibannya sebagai mercusuar
di tengah arus zaman penuh fitnah, mereka malah menjadi fihak yang
mempromosikan pentingnya kebanggaan duniawi seperti kebanggaan akan
tahta dan jabatan.
Mereka rubah tolok-ukur keberhasilan da’wah.
Keberhasilan da’wah Islam tidak lagi dinilai berdasarkan berapa banyak
orang yang semakin beriman dan istiqomah. Tetapi dinilai berdasarkan
berapa banyak dan berapa tinggi jabatan politik dan pos struktural
kekuasaan yang berhasil direbut. Kebanggaan tahta dan jabatan menjadi
pembicaraan utama. Semua enersi dikerahkan untuk mencapai kebanggaan
yang satu ini. Enersi waktu, fisik, batin, fikiran, dana dan doa
semuanya dipusatkan demi kesuksesan merebut kekuasaan formal. Kebanggaan
iman semakin jarang dibicarakan dan malah semakin dirasa aneh dan tidak
penting. Kerugian adalah saat seorang aktifis da’wah tidak berhasil
merebut atau mempertahankan jabatan politiknya. Keterlibatan dalam suatu
kegiatan maksiat tidak dinilai sebagai sebuah kerugian, melainkan
sebuah perilaku manusiawi yang wajar dan perlu dimaklumi. Mengejar ridho
Allah menjadi kalah penting dibandingkan upaya image-building
(pencitraan) dalam rangka mendapatkan dukungan rakyat luas.
Sayyid Qutb menjelaskan Kebanggaan Iman berpedoman kepada sebuah ayat Al-Qur’an yang berbunyi sebagai berikut:
وَلا تَهِنُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الأعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih
hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika
kamu orang-orang yang beriman.” (QS Ali Imran 139)
Selanjutnya Sayyid Qutb mengomentari ayat di atas dengan uraian sebagai berikut:
“Dia melukiskan suatu keadaan yang tertinggi yang harus mendasar dalam
kalbu seorang mukmin dalam menghadapi apa pun. Suatu kebanggaan karena
iman dan sendi-sendinya yang mengatasi seluruh sendi yang bukan
bersumber dari iman.
Suatu ketinggian yang mengatasi seluruh
kekuatan di bumi yang jauh dari dasar iman; dan mengatasi seluruh sendi
yang hidup di bumi ini yang tidak bersumber dari iman. Mengatasi
seluruh tradisi di bumi ini yang tidak dicetak oleh iman. Mengatasi
seluruh undang-undang di bumi ini yang tidak disyariatkan oleh iman, dan
mengatasi seluruh posisi di bumi ini yang tidak ditumbuhkan oleh iman.
Suatu ketinggian yang walaupun tenaga lemah, jumlah ummat yang sedikit
dan kemiskinan harta, sama dengan ketinggian di waktu kuat, jumlah yang
banyak dan harta yang melimpah.
Suatu ketinggian yang tidak
merasa terhina di hadapan kekuatan yang zhalim, tidak merasa rendah di
hadapan kebiasaan sosial dan hukum yang bathil, dan tidak merasa rendah
di hadapan posisi yang diterima oleh manusia tetapi tanpa sandaran
iman.” (Petunjuk Jalan – Penerbit Media Dakwah – halaman 272)
Masalahnya bukan pada memiliki atau tidak memiliki jabatan dan kekuasaan
politik. Tetapi yang menjadi masalah apakah sesudah seseorang memiliki
kekuasaan politik masihkah ia menjadikan Kebanggaan Iman sebagai tolok
ukur kemuliaan dan ketinggian di dalam hidupnya? Dan jawabannya bukan
sekedar berupa sebuah pernyataan atau claim. Jawabannya haruslah berupa
bukti dalam perilaku dan kebijakan. Bukti terbaik adalah berupa
langkah-langkah bersyukur kepada Allah subhaanahu wa ta’aala. Dan
sebaik-baik bentuk bersyukur kepada Allah ialah berupa pemanfaatan
kekuasaan politik demi memastikan tegak dan berlakunya dienullah serta
hukum Allah di bawah wilayah otoritas kekuasaannya.
Bilamana
seseorang yang memperoleh jabatan politik kemudian terlihat nyata
memberlakukan aturan dan hukum Allah subhaanahu wa ta’aala dalam
ruang-lingkup otoritas kepemimpinannya, berarti ia telah berlaku jujur
di dalam mempertahankan kebanggaan imannya. Tetapi bilamana seseorang
menjabat lalu sesudahnya tidak terlihat nyata adanya perubahan aturan
dan hukum jahiliyah diganti dengan hukum Allah subhaanahu wa ta’aala,
maka itu berarti ia telah melupakan Kebanggaan Iman dan terjebak syetan
ke dalam perangkap kebanggaan tahta dan jabatan.
عَنْ أَبِي
هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ
إِنَّكُمْ سَتَحْرِصُونَ عَلَى الْإِمَارَةِ وَسَتَكُونُ نَدَامَةً يَوْمَ
الْقِيَامَةِ فَنِعْمَ الْمُرْضِعَةُ وَبِئْسَتْ الْفَاطِمَةُ
Dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau
bersabda: “Kalian akan rakus terhadap jabatan, padahal jabatan itu akan
menjadi penyesalan di hari kiamat, ia adalah seenak-enak penyusuan dan
segetir-getir penyapihan.”(HR Bukhari – Shahih)
Orang yang
memiliki jabatan akan merasakan “seenak-enak penyusuan” selama masa ia
menjabat. Ia menikmati berbagai fasilitas dan gaji yang mencukupi hidup
diri dan keluarganya. Dan ia pasti mengalami “segetir-getir penyapihan”
saat jabatannya mesti berakhir. Itulah rahasia mengapa setiap orang
yang menjabat pasti akan berusaha keras melestarikan masa kekuasaannya.
اللهم حبب إلينا الإيمان وزينه في قلوبنا، وكره إلينا الكفر والفسوق والعصيان واجعلنا من الراشدين
“Ya Allah, tanamkanlah kecintaan kami kepada iman dan hiasilah hati
kami dengan iman. Dan jadikanlah kami benci kepada kekafiran, kefasikan
dan kemaksiatan. Dan jadikanlah kami golongan orang-orang yang
terbimbing.”
Wallohu a'lam.
eramuslim.com
Senin, 25 Maret 2013
Minggu, 17 Maret 2013
Mengingat Kematian
Sesungguhnya di antara hal yang membuat jiwa melantur dan mendorongnya kepada berbagai pertarungan yang merugikan dan syahwat yang tercela adalah panjang angan-angan dan lupa akan kematian. Oleh karena itu di antara hal yang dapat mengobati jiwa adalah mengingat kematian yang notabene merupakan konsekuensi dari kesadaran akan keniscayaan keputusan Ilahi, dan pendek angan-angan yang merupakan dampak dari mengingat kematian. Janganlah ada yang menyangka bahwa pendek angan-angan akan menghambat pemakmuran dunia. Persoalannya tidak demikian, bahkan memakmurkan dunia disertai pendek angan-angan justeru akan lebih dekat kepada ibadah, jika bukan ibadah yang murni.
Rasulullah saw bersabda:
الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ
“Orang yang cerdas ialah orang yang mengendalikan dirinya dan bekerja untuk kehidupan setelah kematian.” (HR Tirmidzi)Persiapan untuk menghadapi sesuatu tidak akan terwujud kecuali dengan selalu mengingatnya di dalam hati, sedangkan untuk selalu mengingat di dalam hati tidak akan terwujud kecuali dengan selalu mendangarkan hal-hal yang mengingatkannya dan memperhatikan peringatan-peringatannya sehingga hal itu menjadi dorongan untuk mempersiapkan diri. Kepergian untuk menyambut kehidupan setelah kematian telah dekat masanya sementara umur yang tersisa sangat sedikit dan manusiapun melalaikannya.
اقْتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمْ وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ مُعْرِضُونَ
“Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka,
sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya).” (QS
Al-Anbiya 1)Orang yang tenggelam dengan dunia, gandrung kepada tipu-dayanya dan mencintai syahwatnya tak ayal lagi adalah orang yang hatinya lalai dari mengingat kematian; ia tidak mengingatnya bahkan apabila diingatkan ia tak suka dan menghindarinya. Mereka itulah yang disebutkan Allah di dalam firman-Nya:
قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ
مُلَاقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ
فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
“Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya,
maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan
dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata,
lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS
Al-Jumu’ah 8)Kemudian manusia ada yang tenggelam ke dalam dunia, ada pula yang bertaubat dan ada pula yang arif.
Pertama: adapun orang yang tenggelam ke dalam dunia, ia tidak mengingat kematian sama sekali. Jika diingatkan ia mengingat semata-mata untuk menyesali dunianya dan sibuk mencelanya. Baginya, mengingat kematian hanya membuat dirinya semakin jauh dari Allah.
Kedua: Adapun orang yang bertaubat, ia banyak mengingat kematian untuk membangkitkan rasa takut dan khawatir pada hatinya lalu ia menyempurnakan taubat dan kadang-kadang tidak menyukai kematian karena takut disergap sebelum terwujud kesempurnaan taubat dan memperbaiki bekal. Dalam hal ini ia dimaafkan dan tidak tergolong ke dalam sabda Nabi saw:
مَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ كَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ
“Barangsiapa membenci pertemuan dengan Allah, maka Allah membenci pertemuan dengannya.” (HR Bukhari dan Muslim)Karena sesungguhnya ia tidak membenci kematian dan perjumpaan dengan Allah, tetapi hanya takut tidak dapat berjumpa dengan Allah karena berbagai kekurangan dan keteledorannya. Ia seperti orang yang memperlambat pertemuan dengan kekasihnya karena sibuk mempersiapkan diri untuk menemuinya dalam keadaan yang diridhainya sehingga tidak dianggap membenci pertemuan. Sebagai buktinya ia selalu siap untuk menemuinya dan tidak ada kesibukan selainnya. Jika tidak demikian maka ia termasuk orang yang tenggelam ke dalam dunia.
Ketiga: Sedangkan orang yang ‘arif, ia selalu ingat kematian karena kematian adalah janji pertemuannya dengan kekasihnya. Pecinta tidak akan pernah lupa sama sekali akan janji pertemuan dengan kekasihnya. Pada ghalibnya orang ini menganggap lambat datangnya kematian dan mencintai kedatangannya untuk membebaskan diri dari kampung orang-orang yang bermaksiat dan segera berpindah ke sisi Tuhan alam semesta. Sebagaimana diriwayatkan dari Hudzaifah bahwa ketika menghadapi kematian, ia berkata:
“Kekasih datang dalam kemiskinan, semoga tidak berbahagia orang yang menyesal. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa kemiskinan lebih aku cintai dari kekayaan, sakit lebih aku cintai dari kesehatan, dan kematian lebih aku cintai dari kehidupan, maka permudahlah kematian atas diriku agar segera dapat berjumpa dengan-Mu”
Jadi, orang yang bertaubat dimaafkan dari sikap tidak menyukai kematian sedangkan orang yang ‘arif dimaafkan dari tindakan mencintai dan mengharapkan kematian. Tingkatan yang lebih tinggi dari keduanya ialah orang yang menyerahkan urusannya kepada Allah sehingga ia tidak memilih kematian atau kehidupan untuk dirinya. Apa yang paling dicintai adalah apa yang paling dicintai kekasihnya. Orang ini melalui cinta dan wala’ yang mendalam berhasil mencapai maqam taslim dan ridha, yang merupakan puncak tujuan. Tetapi bagaimanapun, mengingat kematian tetap memberikan pahala dan keutamaan. Karena orang yang tenggelam ke dalam dunia juga bisa memanfaatkan dzikrul maut untuk mengambil jarak dari dunia sebab dzikrul maut itu membuat dirinya kurang berselera kepada kehidupan dunia dan mengeruhkan kemurnian kelezatannya. Setiap hal yang dapat mengeruhkan kelezatan dan syahwat manusia adalah termasuk sebab keselamatan. Rasulullah saw bersabda:
أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ يَعْنِي الْمَوْتَ
“Perbanyaklah mengingat penghancur berbagai kelezatan, yaitu kematian.”(HR Tirmidzi, Nasaa’I dan Ibnu Majah)
Artinya, kurangilah berbagai kelezatan dengan mengingat kematian sehingga kegandrungan kamu kepada berbagai kelezatanterputus lalu kamu berkonsentrasi kepada Allah, karena mengingat kematian dapat menghindarkan diri dari kampung tipudaya dan menggiatkan persiapan untuk kehidupan akhirat, sedangkan lalai akan kematian mangakibatkan tenggelam dalam syahwat dunia, sabda Nabi saw:
تحفة المؤمن الموت
“Hadiah orang mu’min adalah kematian.” (HR Thabrani dan al-Hakim)Nabi saw menegaskan hal ini karena dunia adalah penjara orang mu’min, sebab ia senantiasa berada di dunia dalam keadaan susah mengendalikan dirinya, menempa syahwatnya dan melawan syetannya. Dengan demikian, kematian baginya adalah pembebasan dari siksa ini, dan pembebasan tersebut merupakan hadiah bagi dirinya. Nabi saw bersabda:
الموت كفارة لكل مسلم
“Kematian adalah kafarat bagi setiap muslim.” (HR al-Baihaqi)Yang dimaksudnya adalah orang muslim sejati yang orang-orang muslim lainnya selamat dari gangguan lidah dan tangannya, yang merealisasikan akhlaq orang-orang mu’min, tidak terkotori oleh berbagai kemaksiatan kecuali beberapa dosa kecil, sebab kematian akan membersihkannya dari dosa-dosa kecil tersebut setelah ia menjauhi dosa-dosa besar dan menunaikan berbagai kewajiban. Sebagian kaum bijak bestari menulis surat kepada salah seorang kawannya:
“Wahai saudaraku hati-hatilah terhadap kematian di kampung ini sebelum kamu berada di sebuah kampung di mana kamu berharap kematian tetapi tidak akan mendapatkannya.”
Sabtu, 16 Maret 2013
Jadikan Nilai Diri Anda Senilai Surga
Seorang penyair berkata,
Jiwaku yang punya sesuatu akan pergi, mengapa aku harus menangisi sesuatu yang harus pergi.
Dunia dengan emas dan peraknya, dengan jabatan dan rumah megahnya, maupun dengan istananya, tidak berhak mengalirkan setetes pun air mata kita. Diriwayatkan oleh At Tirmidzi bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Dunia ini terkutuk, semua yang ada di dalamnya terkutuk, kecuali dzikir kepada Allah, hal hal yang bersangkutan dengan dzikir kepada Allah, hal hal yang bersangkutan dengan dzikir, seorang’alim dan seorang pelajar.’
Dunia dan kekayaan itu sebenarnya tak lebih dari barang titipan, demikian yang dikatakan oleh Labib,
“Harta dan keluarga tak lain adalah barang titipan, dan suatu saat barang titipan itu akan dikembalikan.”
Uang milyaran, rumah rumah megah, dan mobil mobil mewah tidak akan menangguhkan kematian seorang hamba. Demikian dikatakan oleh Hatim Ath Thai,
“Demi hidupmu, kekayaan tak akan memberi manfaat kepada seorangpun ketika dada sudah tersengal dan sesak.”
Oleh sebab itulah kalangan bijak Bestari mengatakan,”Tetapkan harga sesuatu itu secara rasional, sebab dunia dan seisinya tidak lebih murah dari jiwa seorang mukmin.”
“Dan, tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main main.” (QS Al Ankabut 64)
Hasan Al Bashri mengatakan, “ Jangan tetapkan harga dirimu kecuali dengan surga. Jiwa orang yang beriman itu mahal, tapi sebagian mereka justru menjualnya dengan harga yang murah.”
Orang orang yang menangis meraung raung karena kehilangan harta mereka, karena rumah mereka yang hancur, dank arena mobil mobil mereka yang terbakar, yang tidak menyesali dan bersedih atas merosotnya nilai keimanan mereka, atas dosa dosa mereka, dan atas sikap sikap mereka yang memandang sebelah mata terhadap nilai ketaatan kepada Rabb mereka, niscaya akan menyadari bahwa mereka tidak ada nilainya jika diukur dengan apa yang mereka tangisi, dan akan menyesali apa yang mereka lakukan. Letak permasalahannya, adalah permasalahan nilai, idealisme, sikap dan misi hidup.
“Sesungguhnya mereka orang kafir menyukai kehidupan dunia dan mereka tidak memperdulikan kesudahan mereka, pada hari yang berat (hari kiamat)." (QS Al Insan 27)
eramuslim.com
Manfaat Wudhu Sebelum Tidur
Memang ini
kedengarannya sepele.Tapi jangan anggap enteng soal ini, pasalnya nabi
senantiasa wudhu sebelu tidur.berwudhu,disamping bernilai ibadah juga
bermanfaat besar bagi kesehatan .
Peneliti
dari Universitas Alexsandria ,dr musthafa syahatah ,yang sekaligus menjabat
sebagai Dekan Fakultas THT, menyebutkan bahwa jumlah kuman pada orang yang
berwudhu lebih sedikit dibanding orang yang tidak berwudhu.
Dengan
ber-istisnaq (menghirup air dalam hidung) misalnya kita dapat mencegah
timbulnya penyakit dalam hidung. Dengan mencuci kedua tangan ,kita dapat
menjaga kebersihan tangan. Kita juga bisa menjaga kebersihan kulit wajah bila
kita rajin berwudhu. Selain itu,kita juga bisa menjaga kebersihan daun telinga
dan telapak kaki kita, artinya dengan sering berwudhu kita dapat menjaga
kesehatan tubuh kita.
Lalu
,bagaimana jika berwudhu dilakukan sebelum tidur ? Nah,para pakar kesehatan di
dunia senantiasa menganjurkan agar kita mencuci kaki mulut dan muka sebelum
tidur. Bahkan ,sejumlah pakar kecantikan memproduki alat kecantikan agar dapat
menjaga kesehatan kulit muka.
Di samping
itu tentunya anjuran untuk berwudhu juga mengandung nilai ibadah yang tinggi.
Sebab ketika seseorang dalam keadaan suci. Jika seseorang berada dalam keadaan
suci,berarti ai dekat dengan Allah. Karena Allah akan dekat dan cinta kepada
orang-orang yang berada dalam keadaan suci.
Rasulullah
SAW bersabda: “Barangsiapa tidur dimalam hari dalam keadaan suci (berwudhu’)
maka Malaikat akan tetap mengikuti, lalu ketika ia bangun niscaya Malaikat itu
akan berucap ‘Ya Allah ampunilah hamba mu si fulan, kerana ia tidur di malam
hari dalam keadaan selalu suci’”. (HR Ibnu Hibban dari Ibnu Umar r.a.)
Hal ini juga
ditulis dalam kitab tanqih al-Qand al-Hatsis karangan syekh muhamad bin umar
an-nawawi al-mantany. Dari umar bin harits bahwa nabi bersabda :“barangsiapa
tidur dalam keadaan berwudhu ,maka apabila mati disaat tidur maka matinya dalam
keadaan syahid disisi allah.
Maksudnya orang yang berwudhu sebelum tidur akan memperoleh posisi yang tinggi disisi Allah.
Maksudnya orang yang berwudhu sebelum tidur akan memperoleh posisi yang tinggi disisi Allah.
Dengan
begitu dapat disimpulkan bahwa berwudhu sebelu tidur merupakan anjuran nabi
yang harus dikerjakan bila seseorang ingin memperoleh kemuliaan disisi Allah.
Manfaat Wudhu Sebelum Tidur
Manfaat Wudhu Sebelum Tidur
- Pertama, merilekskan otot-otot sebelum beristirahat. Mungkin tidak terlalu banyak penjelasan. Bisa dibuktikan dalam ilmu kedokteran bahwa percikan air yang dikarenakan umat muslim melakukan wudhu itu merupakan suatu metode atau cara mengendorkan otot-otot yang kaku karna lelahnya dalam beraktifitas. Sangat diambil dampak positifnya bahwa jika seseorang itu telah melakukan wudhu, maka pikiran kita akan terasa rileks. Badan tidak akan terasa capek.
- Kedua, mencerahkan kulit wajah. Wudhu dapat mencerahkan kulit wajah karena kinerja wudhu ini menghilangkan noda yang membandel dalam kulit. Kotoran-kotoran yang menempel pada kulit wajah kita akan senantiasa hilang dan tentunya wajah kita menjadi cerah dan bersih.
- Ketiga, didoakan malaikat. Dalam sabda Beliau yang disinggung pada bagian atas, malaikat akan senantiasa memberikan do’a perlindungan kepada umat muslim yang senantiasa wudhu sebelum tidur. Padahal malaikat adalah makhluk yang senantiasa berdzikir kepada Allah. niscaya do’anya akan senantiasa dikabulkan pula oleh Allah. Oleh karena itu, senantiasa berwudhu itu adalah hal yang wajib kita lakukan.
Fenomena
Meninggal Dunia Saat Tidur Dalam Sunnah
Jauh-jauh
hari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sudah memberikan bimbingan dalam tidur
agar tidak menimbulkan bahaya, di antaranya tidur sambil miring ke kanan, tidak
tidur sambil tengkurap.
Diriwayatkan
oleh al-Hakim dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu, Pernah suatu hari Nabi
shallallahu ‘alaihi wasallam melewati seseorang yang tidur tengkurap di atas
perutnya, lalu beliau menendangnya dengan kakinya seraya bersabda,
“Sesungguhnya
(posisi tidur tengkurap) itu adalah posisi tidur yang tidak disukai Allah Azza
Wa Jalla.” (HR. Ahmad dan Al-Hakim).
Sesungguhnya
sebab kematian itu bermacam-macam, namun kematian tetaplah satu. Selain Sleep
Apnea masih ada sebab lainnya yang menjadi media datangnya kematian. Karenanya,
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan tips terbaik bagi umatnya dalam
menghadapi kematian yang datangnya tak terduga ini.
Disebutkan
dalam Shahihain, dari sabahat al-Bara’ bin Azib radliyallahu ‘anhu, Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda kepadanya;
“Apabila
engkau hendak mendatangi pembaringan (tidur), maka hendaklah berwudhu terlebih
dahulu sebagaimana wudhumu untuk melakukan shalat.” (HR. Bukahri dan Muslim).
Dalam
menjelaskan faidah dari perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ini,
Al-Hafidz Ibnul Hajar menyebutkan hikmahnya, di antaranya yaitu: Agar
dia tidur pada malam itu dalam keadaan suci supaya ketika kematian menjemputnya
dia dalam keadaan yang sempurna. Dari sini diambil kesimpulan dianjurkannya
untuk bersiap diri untuk menghadapi kematian dengan menjaga kebersihan
(kesucian) hati karena kesucian hati jauh lebih penting daripada kesucian
badan.
Imam
al-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menyebutkan tiga hikmah berwudlu sebelum
tidur (yang maksudnya tidur dalam keadaan suci). Salah satunya adalah khawatir
kalau dia meninggal pada malam tersebut.
Abdul Razak
mengeluarkan sebuah atsar dari Mujahid dengan sanad yang kuat, Ibnu Abbas
radliyallahu ‘anhuma berkata,
“Janganlah
engkau tidur kecuali dalam kondisi berwudlu (suci), karena arwah akan
dibangkitkan sesuai dengan kondisi saat dia dicabut.”
Rabu, 13 Maret 2013
Do'a Pengikat Ni'mat Alloh SWT
Setiap orang
tentu ingin selalu sehat, hidup kecukupan, merasakan kebahagiaan dan lancar
segala urusannya. Setiap orang tentu tak ingin sakit-sakitan, miskin, sengsara,
hidup serba susah dan selalu ditimpa musibah. Setiap orang tentu ingin
kenikmatan yang Allah karuniakan kepadanya senantiasa awet, terjaga dan tak
cepat hilang.
Kenikmatan
yang Allah karuniakan kepada kita haruslah kita pelihara. Kita harus
memanfaatkan kenikmatan tersebut untuk hal-hal posotif yang telah ditetapkan
oleh Allah. Selalu bersyukur dan memuji Allah dengan lisan dan hati adalah
bagian sangat penting dalam memelihara kenikmatan Allah Ta’ala.
Nikmat
tangan, misalnya. Hati kita harus bersyukur kepada Allah atas dua tangan yang
sehat dan kuat yang dilimpahkan-Nya kepada kita. Lisan kita harus senanatiasa
melantunkan pujian kepada Allah atas karunia dua tangan tersebut. Secara fisik,
tangan harus kita pergunakan untuk amal-amal yang membawa manfaat bagi
kehidupan dunia dan akhirat kita.
Di samping
itu semua, kita berdoa kepada Allah semoga kenikmatan tersebut senantiasa
terjaga dan tidak berubah menjadi bencana.
Dari
Abdullah bin Umar radiyallahu ‘anhuma berkata: “Di antara doa yang biasa dibaca
oleh Rasululullah shallallahu ‘alaihi wa salam adalah :
«اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ،
وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ، وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ، وَجَمِيعِ سَخَطِكَ»
“Ya
Allah, aku berlindung kepada-Mu dari lenyapnya nikmat-Mu, beralihnya kesehatan
dari-Mu, mendadaknya hukuman dari-Mu dan seluruh kemurkaan-Mu.” (HR.
Muslim , Al-Hakim dan Al-Baghawi )
Hilangnya
nikmat, misalnya, nikmat dua tangan diambil kembali oleh Allah dengan
menurunkan ujian berupa kelumpuhan atau penyakit yang mengakibatkan tangan
harus diamputasi.
Beralihnya
kesehatan adalah perubahan suasana dari semula sehat wal afiat menjadi sakit
karena ditimpa oleh penyakit tertentu.
Mendadaknya
hukuman adalah Allah tiba-tiba menghukum hamba-Nya atas sebuah dosa dan
pelanggaran yang dilakukannya.
Adapun kemurkaan
Allah adalah musibah yang paling berat. Jika Allah telah memurkai kita dan
tidak ridha kepada kita, maka semua kenikmatan hidup duniawi tidak akan ada
nilainya lagi di akhirat kelak.
Apalagi jika
nikmat itu berupa keimanan dan keislaman, maka lenyapnya nikmat tersebut
merupakan musibah terbesar dalam kehidupan seorang hamba. Maka pelihara dan
ikatlah nikmat Allah dengan erat, agar nikmat itu tidak dicabut-Nya akibat
kelalaian kita sendiri.
Wallahu a’lam bish-shawab.
SIMPANAN DI SURGA
Rasululloh SAW telah menjelaskan keutamaan kalimat dzikir ini kepada Abu Musa al-Asy'ari,
"Wahai Abdullah bin Qais (nama
Abu Musa), ucapkan Laa Haula Wa Laa Quwwata Illaa Billaah. Sesungguhnya
itu adalah salah satu kekayaan yang tersimpan di surga." Atau beliau
mengatakan: "Tidakkah kamu mau aku tunjuki salah satu harta simpanan di
surga? Laa Haula Wa Laa Quwwata Illaa Billaah.” ( HR. Al-Bukhari
Muslim )
Imam Ahmad dalam Musnadnya meriwayatkan hadits yang
dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, bahwa Nabi Shallallahu 'Alaihi
Wasallam bersabda :
أَكْثِرُوا مِنْ قَوْلِ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ فَإِنَّهَا كَنْزٌ مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ
"Perbanyaklah membaca Laa Haula Wa Laa Quwwata Illaa Billaah, karena sesungguhnya adalah salah satu harta simpanan di surga."
Kanzun min Kunuz al-jannah, maksudnya: pahalanya disimpan bagi yang
mengucapkannya. Pahalanya atau balasan amal zikir terebut disimpan di
surga sebagaimana dikumpulkan, disimpan, dan dijaganya harta kekayaan.
Disebut Kanzun menunjukkan bahwa pahala yang disiapkan adalah sangat
istimewa dan berharga, sebagaimana harta simpanan adalah harta yang
paling berharga.
Imam Nawawi dalam Syarah Muslim menjelaskan
tentang sebab keutamaan kalimat tersebut,
"Para ulama menuturkan sebab
hal itu, karena kalimat itu adalah kalimat kepasrahan dan menyerahkan
urusan kepada Allah Ta'ala, merendah (menghinakan) diri kepada Allah.
Sesungguhnya tidak ada yang bisa berbuat selain-Nya, tidak ada yang
menggagalkan keputusan-Nya, dan hamba tadi tidak kuasa sedikitpun dalam
urusan tadi."
Maksud ringkat dari zikir tersebut adalah tidak
ada kekuatan untuk berusaha dan kemampuan untuk mengerjakan apapun,
kecuali dengan masyi'ah (kehendak) Allah Ta'ala. Sebagian ulama
menyebutkan, tidak ada daya untuk menolak keburukan dan tidak ada
kekuatan dalam meraih kebaikan kecuali dengan izin (kehendak) Allah.
Sehingga kalimat zikir ini menuntut agar dalam melakukan usaha supaya
meminta pertolongan kepada Allah dan bertawakkal kepada-Nya. Oleh
karenanya, saat mendengar seruan shalat dalam adzan; Hayya 'Alaa
al-Shalaah dan Hayya 'Alaa Al-Falaah, kita diperintahkan untuk membaca
kalimat zikir di atas.
Wallohu a'lam.
Selasa, 12 Maret 2013
5 NASIHAT MOTIVASI UNTUK DIRI
1. Jika engkau bertemu dengan orang yang LEBIH PANDAI, itulah waktu untuk engkau MENIMBA ILMU.
2. Jika engkau bertemu dengan orang yang SAMA PANDAI, itulah waktu untuk engkau BERBAGI ILMU.
3. Jika engkau bertemu dengan orang yang KURANG PANDAI, itulah waktu untuk engkau MENYAMPAIKAN ILMU.
4. Jika engkau bertemu dengan orang yang banyak BICARA PERKARA AKHIRAT, itulah waktu engkau RAPATKAN DIRI.
5. Jika engkau bertemu dengan orang yang banyak BICARA PERKARA DUNIAWI, itulah waktu untuk engkau DIAM dan BERLALU PERGI.
2. Jika engkau bertemu dengan orang yang SAMA PANDAI, itulah waktu untuk engkau BERBAGI ILMU.
3. Jika engkau bertemu dengan orang yang KURANG PANDAI, itulah waktu untuk engkau MENYAMPAIKAN ILMU.
4. Jika engkau bertemu dengan orang yang banyak BICARA PERKARA AKHIRAT, itulah waktu engkau RAPATKAN DIRI.
5. Jika engkau bertemu dengan orang yang banyak BICARA PERKARA DUNIAWI, itulah waktu untuk engkau DIAM dan BERLALU PERGI.
Senin, 11 Maret 2013
Ketika Kitab Amal Dibuka
Pernahkah kita memikirkan keadaan kita pada saat di akhirat ?
Pernahkah kita membayangkan, kita berada di hadapan Alloh SWT untuk mempertanggungjawabkan amal perbuatan kita ?
Pernahkah kita bembayangkan bagaimana kita menerima catatan amal kita ?Amal baik atau amal buruk ? Kemudian kita dimasukkan ke surga yang penuh kedamaian dan kabahagiaan, ataukah sebaliknya ke neraka yang penuh dengan siksa memilukan ?
Setiap amal akan menjadi teman bagi pelakunya. Amal kebaikan - atas rahmat Alloh - akan mengantarkan pelakunya menikmati kebahagiaan akhirat. Sebaliknya dosa akan mengantarkan pelakunya merasakan siksa akhirat. Sudahkah mempersiapkan bekal akhirat dengan memperbanyak amal shalih ?
Mari mengajak diri kita untuk merenungkan dan mengamati segala sesuatu, serta menerima segala nasihat baik. Kemudian kita lepaskan dalam lautan kebijakan hati kita dengan hati lemah lembut dan khusyu' serta tetesan air mata.
Rosululloh SAW bersabda, "Sesungguhnya airmata orang yang menangisi dosa-dosanya dapat memadamkan lautan api pada hari kiamat."
Semoga bermanfaat.
Pernahkah kita membayangkan, kita berada di hadapan Alloh SWT untuk mempertanggungjawabkan amal perbuatan kita ?
Pernahkah kita bembayangkan bagaimana kita menerima catatan amal kita ?Amal baik atau amal buruk ? Kemudian kita dimasukkan ke surga yang penuh kedamaian dan kabahagiaan, ataukah sebaliknya ke neraka yang penuh dengan siksa memilukan ?
Setiap amal akan menjadi teman bagi pelakunya. Amal kebaikan - atas rahmat Alloh - akan mengantarkan pelakunya menikmati kebahagiaan akhirat. Sebaliknya dosa akan mengantarkan pelakunya merasakan siksa akhirat. Sudahkah mempersiapkan bekal akhirat dengan memperbanyak amal shalih ?
Mari mengajak diri kita untuk merenungkan dan mengamati segala sesuatu, serta menerima segala nasihat baik. Kemudian kita lepaskan dalam lautan kebijakan hati kita dengan hati lemah lembut dan khusyu' serta tetesan air mata.
Rosululloh SAW bersabda, "Sesungguhnya airmata orang yang menangisi dosa-dosanya dapat memadamkan lautan api pada hari kiamat."
Semoga bermanfaat.
EFEK LANGSUNG MEMANDANG YANG HARAM
1. Rusaknya Hati.
Pandangan seperti anak panah yang meluncur deras, kalau tidak membunuh maka dia akan melukai. Dia seperti bola api yang mengenai kayu bakar kalau tidak membakar habis semuanya dia akan membakar sebagian.
2. Mengurangi Kecerdasan
Imam Syafi’i pernah mengadukan kepada gurunya Waki’ tentang susahnya beliau menghafal. Gurunya memberi nasehat untuk menjauhi kemaksiatan.
3. Turunnya Musibah
‘Amr bin Murroh berkata: “saya melihat seorang wanita yang menakjubkan lalu mataku buta, aku berharap itu akan menjadi pengampunnya
4. Menghilangkan Ketaatan
Hudzaifah berkata: “Barangsiapa yang membayangkan wanita di balik pakaiannya maka batallah puasanya.
5. Melalaikan Dari Allah
Saat pandangan mulai menjamah yang haram maka akan menimbulkan rasa malas dalam hati untuk mendekatkan diri kepada Allah dan hari akhir.
6. Boleh dilempar matanya
“Kalau ada seseorang yang mengintip ke rumahmu sementara engkau tidak mengizinkannya lalu engkau lempar matanya dengan batu sehingga buta maka tiada dosa bagimu” (HR. Bukhari)
Pandangan seperti anak panah yang meluncur deras, kalau tidak membunuh maka dia akan melukai. Dia seperti bola api yang mengenai kayu bakar kalau tidak membakar habis semuanya dia akan membakar sebagian.
2. Mengurangi Kecerdasan
Imam Syafi’i pernah mengadukan kepada gurunya Waki’ tentang susahnya beliau menghafal. Gurunya memberi nasehat untuk menjauhi kemaksiatan.
3. Turunnya Musibah
‘Amr bin Murroh berkata: “saya melihat seorang wanita yang menakjubkan lalu mataku buta, aku berharap itu akan menjadi pengampunnya
4. Menghilangkan Ketaatan
Hudzaifah berkata: “Barangsiapa yang membayangkan wanita di balik pakaiannya maka batallah puasanya.
5. Melalaikan Dari Allah
Saat pandangan mulai menjamah yang haram maka akan menimbulkan rasa malas dalam hati untuk mendekatkan diri kepada Allah dan hari akhir.
6. Boleh dilempar matanya
“Kalau ada seseorang yang mengintip ke rumahmu sementara engkau tidak mengizinkannya lalu engkau lempar matanya dengan batu sehingga buta maka tiada dosa bagimu” (HR. Bukhari)
Sabtu, 09 Maret 2013
Kebaikan Banyak, Pengamalnya Sedikit
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم :اَلْخَيْرُ كَثِيْرٌ وَ مَنْ يَعْمَلْ بِهِ قَلِيْلٌ –الطبراني
Artinya :
Rasulullah SAW bersabda,"Kebaikan banyak namun orang yang mengamalkannya sedikit."
(HR Ath Thabrani)
Al Munawi menjelaskan bahwa amalan kebaikan amat banyak sekali
bentuknya, namun karena manusia banyak menyibukkan diri dalam urusan
dunia dan melalaikan hal-hal yang memberikan manfaat untuk kehidupan
akhirat, sehingga hanya sedikit dari mereka yang mengamalkan kebaikan.
Yang juga menyebabkan sedikitnya manusia melaksanakan kebaikan adalah
kejahilan mereka mengenai rahasia syariat, bahwa setiap perkara mubah bisa
bernilai sebagai ketaatan yang berpahala sesuai dengan niatnya. Sebagaimana
kalau seseorang yang meniatkan dalam makannya untuk memperkuat fisik
dalam berjihad, shalat atau puasa. Sebagaimana juga jika seseorang meniatkan diri dalam jima’nya utuk menjaga diri dari perzinaan atau agar memperoleh
anak yang shalih.
Wallohu a'lam.
Jumat, 08 Maret 2013
Cara Cepat Mengumpulkan Dosa
Cara Pertama :
Segera miliki seorang PACAR, lalu lakukan hal2 sebagai berikut :
Buka dan pamerkan auratmu dengan cara2 berikut :
Buatlah karya2 yang akan menimbulkan DOSA Jariyah bagi anda, antara lain :
Ciptakan karya-karya anda yang melawan hukum/syariat Alloh dan Rosul-Nya, bisa berupa KATA-KATA, TULISAN, SYAIR/LIRIK, FASHION, HIBURAN, DAN LAIN2 ,yang orang banyak akan ikut2 dan meniru untuk menentang Alloh, dijamin DOSA akan mengalir meskipun anda sudah meninggal dunia.
Semakin banyak orang yang meniru dan mengikuti anda semakin banyak limpahan DOSA yang akan anda terima.
Belum termasuk orang yang diam2 atau terang2an tidak menyukai karya2 anda, akan memberikan andil khusus dalam melipatgandakan DOSA Jariyah anda.
Dan anda akan ‘menikmati’ pensiun DOSA anda sejak anda menempati rumah anda yang baru yakni ALAM KUBUR.
Segera miliki seorang PACAR, lalu lakukan hal2 sebagai berikut :
- Pikirkan, lamunkan, dan bayangkan setiap saat maka dijamin DOSA mengalir dengan cepat memenuhi Rekenening DOSA anda
- Ngobrol dan saling bertatapanlah, dijamin DOSA pun dengan deras akan mengalir untuk anda
- Bersentuhanlah dengan berpegangan, membelai, atau bahkan menciumnya dijamin rekening DOSA anda akan segera penuh ( shg hrs segera ganti buku )
- Berduaanlah di tempat gelap dan sepi, dijamin juga DOSA bertambah dg cepat
- Supaya lebih cepat dan akan menjadi DOSA abadi untuk anda, maka berZINAlah
Buka dan pamerkan auratmu dengan cara2 berikut :
- Pakailah pakaian2 yang auratnya terbuka, serba minim dan ketat dan pendek, dijamin setiap detik DOSA mengalir plus DOSA orang2 yang memperhatikan anda
- Bikinlah photo2 atau video kamu yang buka2 aurat itu dan pajang dimana2, bila perlu up lowd ke dunia maya , maka anda akan mendapatkan 2 sekaligus : (1) Selama photo masih ada dan bisa dilihat/dinikmati orang maka DOSA akan terus mengalir bahkan meskipun anda sudah mati. (2) Berapa banyak orang yg berDOSA krn memandang foto/video anda, sebanyak itu pula DOSA ditambahkan ke rekening anda
- Jadikan idola2 qm dari kalangan artis yang mengagungkan budaya 'buka2 aurat' , jadikan ia sebagai panutan dalam berbusana, bertingkah laku/bergaya hidup, dan bertutur kata, niscaya anda kelak akan dikumpulkan bersama mereka (asyik khan?)..... tapi di NERAKA
Buatlah karya2 yang akan menimbulkan DOSA Jariyah bagi anda, antara lain :
Ciptakan karya-karya anda yang melawan hukum/syariat Alloh dan Rosul-Nya, bisa berupa KATA-KATA, TULISAN, SYAIR/LIRIK, FASHION, HIBURAN, DAN LAIN2 ,yang orang banyak akan ikut2 dan meniru untuk menentang Alloh, dijamin DOSA akan mengalir meskipun anda sudah meninggal dunia.
Semakin banyak orang yang meniru dan mengikuti anda semakin banyak limpahan DOSA yang akan anda terima.
Belum termasuk orang yang diam2 atau terang2an tidak menyukai karya2 anda, akan memberikan andil khusus dalam melipatgandakan DOSA Jariyah anda.
Kamis, 07 Maret 2013
BIODATA IBLIS / SYETAN
Nama : Iblis
Gelar : Laknatullah 'alaihi (semoga Allah melaknatnya)
Lahir : Sebelum diciptakan manusia
Tempat tinggal : Toilet dan rumah yang tidak disebut nama Allah ketika memasukinya
Singgasana : Di atas air
Rumah masa depan : Neraka jahannam, seburuk-buruk tempat tinggal
Agama : Kafir
Jabatan : Pimpinan umum orang-orang yang dimurkai Allah dan sesat
Masa Jabatan : Hingga hari kiamat
Karyawan : Setan jin dan setan manusia
Partner dalam bekerja : Orang yang diam dari kebenaran
Agen : Dukun dan paranormal
Musuh : Kaum muslimin
Kekasih di dunia : wanita yang hoby telanjang (maaf) dan pamer aurat
Keluarga : Para taghut
Cita-cita : Ingin membuat manusia semua kafir
Motto : Kemunafikan adalah akhlak yang paling utama
Hobi : Menyesatkan manusia dan menjerumuskan dalam kesesatan
Lukisan kesayangan : Tato dan sejenisnya
Mata pencaharian : mencari harta yang haram
Makanan favorit : Bangkai manusia (ghibah)
Tempat favorit : tempat-tempat najis dan tempat maksiat
Tempat yang dibenci : Majlis ilmu dan tempat-tempat ketaatan
Alat komunikasi : ghibah (menggunjing), namimah (adu domba), dan dusta
Jurus Andalan :
1. Memoles kebathilan
2. Menamakan maksiat dengan nama yang indah
3. Menamakan ketaatan dengan nama yang tidak disukai
4. Masuk melalui pintu yang disukai manusia
5. Menyesatkan manusia secara bertahap
6. Menghalang-halangi manusia dari kebenaran
7. Berlagak sebagai penasihat
Kelemahan :
1. Tidak berkutik dihadapan orang yang ikhlas
2. Kewalahan menghadapi orang yang berilmu
3. Lari dari suara adzan
4. Lari dari rumah yang dibacakan al-Baqarah
5. Menyingkir dari orang yang berdzikir kepada Allah
6. Menangis ketika melihat orang bersujud
*Diringkas dan diadaptasi dari kitab "Wiqayatul Insan minal Jin wasy Syayaathin', karya Wahid Abdus Salam
Senin, 04 Maret 2013
Keajaiban Sholat Tahajjud
“Jika matahari sudah terbenam, aku gembira dengan datangnya malam dan manusia tidur karena inilah saat hanya ada Allah dan aku.”
Sejarah telah mencatat bahwa Rasulullah Saw dan para sahabat selalu
melaksanakan shalat tahajud. shalat tahajud adalah shalat yang sangat
mulia. Keajaiban melaksanakan shalat tahajud telah tercatat dalam
alquran. Ada beberapa keajaiban shalat tahajud seperti berikut ini:1. Shalat Tahajud sebagai tiket masuk surga …
Abdullah Ibn Muslin berkata “kalimat yang pertama kali ku dengar dari Rasulullah Saw saat itu adalah, “Hai sekalian manusia! Sebarkanlah salam, bagikanlah makanan, sambunglah silaturahmi, tegakkan lah shalat malam saat manusia lainnya sedang tidur, niscaya kalian masuk surga dengan selamat.” (HR. Ibnu Majah).
2. Amal yang menolong di akhirat …
Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa berada di dalam taman-taman surga dan di mata air-mata air, seraya mengambil apa yang Allah berikan kepada mereka. Sebelumnya mereka adalah telah berbuat baik sebelumnya (di dunia), mereka adalah orang-orang yang sedikit tidurnya di waktu malam dan di akhir malam mereka memohon ampun kepada Allah).” (QS. Az Zariyat: 15-18)
Ayat di atas menunjukkan bahwa orang yang senantiasa bertahajud Insya Allah akan mendapatkan balasan yang sangat nikmat di akhirat kelak.
3. Pembersih penyakit hati dan jasmani …
Salman Al Farisi berkata, Rasulullah Saw bersabda, “Dirikanlah shalat malam, karena sesungguhnya shalat malam itu adalah kebiasaan orang-orang shaleh sebelum kamu, (shalat malam dapat) mendekatkan kamu kepada tuhanmu, (shalat malam adalah) sebagai penebus perbuatan buruk, mencegah berbuat dosa, dan menghindarkan diri dari penyakit yang menyerang tubuh.” (HR. Ahmad)
4. Sarana meraih kemuliaan …
Rasulullah Saw bersabda, “Jibril mendatangiku dan berkata, “Wahai Muhammad, hiduplah sesukamu, karena engkau akan mati, cintailah orang yang engkau suka, karena engkau akan berpisah dengannya, lakukanlah apa keinginanmu, engkau akan mendapatkan balasannya, ketahuilah bahwa sesungguhnya kemuliaan seorang muslim adalah shalat waktu malam dan ketidakbutuhannya di muliakan orang lain.” (HR. Al Baihaqi)
5. Jalan mendapatkan rahmat Allah …
Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Semoga Allah merahmati laki-laki yang bangun malam, lalu melaksanakan shalat dan membangunkan istrinya. Jika sang istri menolak, ia memercikkan air di wajahnya. Juga, merahmati perempuan yang bangun malam, lalu shalat dan membangunkan suaminya. Jika sang suami menolak, ia memercikkan air di wajahnya.” (HR. Abu Daud)
6. Sarana Pengabulan permohonan …
Allah SWT berjanji akan mengabulkan doa orang-orang yang menunaikan shalat tahajud dengan ikhlas. Rasulullah Saw Bersabda, “Dari Jabir berkata, bahwa nabi Saw bersabda, “Sesungguhnya di malam hari , ada satu saat yang ketika seorang muslim meminta kebaikan dunia dan akhirat, pasti Allah memberinya, Itu berlangsung setiap malam.” (HR. Muslim)
7. Penghapus dosa dan kesalahan …
Dari Abu Umamah al-Bahili berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Lakukanlah Qiyamul Lail, karena itu kebiasaan orang saleh sebelum kalian, bentuk taqarub, penghapus dosa, dan penghalang berbuat salah.” (HR. At-Tirmidzi)
8. Jalan mendapat tempat yang terpuji …
Allah berfirman, “Dan pada sebagian malam bertahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” (QS. Al-Isra’:79)
9. Pelepas ikatan setan …
Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Setan akan mengikat kepala seseorang yang sedang tidur dengan ikatan, menyebabkan kamu tidur dengan cukup lama. Apabila seseorang itu bangkit seraya menyebut nama Allah, maka terlepaslah ikatan pertama, apabila ia berwudhu maka akan terbukalah ikatan kedua, apabila di shalat akan terbukalah ikatan semuanya. Dia juga akan merasa bersemangat dan ketenangan jiwa, jika tidak maka dia akan malas dan kekusutan jiwa.”
10. Waktu utama untuk berdoa …
Amru Ibn ‘Abasah berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah Saw, “Ya Rasulullah! Malam apakah yang paling di dengar?”, Rasulullah Saw menjawab, “Tengah malam terakhir, maka shalat lah sebanyak yang engkau inginkan, sesungguhnya shalat waktu tersebut adalah maktubah masyudah (waktu yang apabila bermunajat maka Allah menyaksikannya dan apabila berdoa maka didengar doanya)” (HR. Abu Daud)
11. Meraih kesehatan jasmani …
“Hendaklah kalian bangun malam. Sebab hal itu merupakan kebiasaan orang-orang saleh sebelum kalian. Wahana pendekatan diri pada Allah Swt, penghapus dosa, dan pengusir penyakit dari dalam tubuh.” (HR. At-Tarmidzi)
12. Penjaga kesehatan rohani …
Allah SWT menegaskan bahwa orang yang shalat tahajud akan selalu mempunyai sifat rendah hati dan ramah. Ketenangan yang merupakan refleksi ketenangan jiwa dalam menjalani kehidupan sehari-hari di masyarakat.
Allah Berfirman, “Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik. Dan orang yang melewati malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka.” (QS. Al-Furqan: 63-64)
Keajaiban shalat tahajud sudah terbukti, maka bertahajudlah!
Mungkin masih banyak lagi keajaiban shalat tahajud yang mungkin terlewat dari tulisan ini. Yang pasti shalat tahajud merupakan shalat yang bagus sebagai ibadah tambahan bagi kita.
Subhanallah .. Shalat tahajud benar-benar dahsyat dalam meraih kebaikan dunia akhirat .
Langganan:
Komentar (Atom)





