Setiap orang
tentu ingin selalu sehat, hidup kecukupan, merasakan kebahagiaan dan lancar
segala urusannya. Setiap orang tentu tak ingin sakit-sakitan, miskin, sengsara,
hidup serba susah dan selalu ditimpa musibah. Setiap orang tentu ingin
kenikmatan yang Allah karuniakan kepadanya senantiasa awet, terjaga dan tak
cepat hilang.
Kenikmatan
yang Allah karuniakan kepada kita haruslah kita pelihara. Kita harus
memanfaatkan kenikmatan tersebut untuk hal-hal posotif yang telah ditetapkan
oleh Allah. Selalu bersyukur dan memuji Allah dengan lisan dan hati adalah
bagian sangat penting dalam memelihara kenikmatan Allah Ta’ala.
Nikmat
tangan, misalnya. Hati kita harus bersyukur kepada Allah atas dua tangan yang
sehat dan kuat yang dilimpahkan-Nya kepada kita. Lisan kita harus senanatiasa
melantunkan pujian kepada Allah atas karunia dua tangan tersebut. Secara fisik,
tangan harus kita pergunakan untuk amal-amal yang membawa manfaat bagi
kehidupan dunia dan akhirat kita.
Di samping
itu semua, kita berdoa kepada Allah semoga kenikmatan tersebut senantiasa
terjaga dan tidak berubah menjadi bencana.
Dari
Abdullah bin Umar radiyallahu ‘anhuma berkata: “Di antara doa yang biasa dibaca
oleh Rasululullah shallallahu ‘alaihi wa salam adalah :
«اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ،
وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ، وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ، وَجَمِيعِ سَخَطِكَ»
“Ya
Allah, aku berlindung kepada-Mu dari lenyapnya nikmat-Mu, beralihnya kesehatan
dari-Mu, mendadaknya hukuman dari-Mu dan seluruh kemurkaan-Mu.” (HR.
Muslim , Al-Hakim dan Al-Baghawi )
Hilangnya
nikmat, misalnya, nikmat dua tangan diambil kembali oleh Allah dengan
menurunkan ujian berupa kelumpuhan atau penyakit yang mengakibatkan tangan
harus diamputasi.
Beralihnya
kesehatan adalah perubahan suasana dari semula sehat wal afiat menjadi sakit
karena ditimpa oleh penyakit tertentu.
Mendadaknya
hukuman adalah Allah tiba-tiba menghukum hamba-Nya atas sebuah dosa dan
pelanggaran yang dilakukannya.
Adapun kemurkaan
Allah adalah musibah yang paling berat. Jika Allah telah memurkai kita dan
tidak ridha kepada kita, maka semua kenikmatan hidup duniawi tidak akan ada
nilainya lagi di akhirat kelak.
Apalagi jika
nikmat itu berupa keimanan dan keislaman, maka lenyapnya nikmat tersebut
merupakan musibah terbesar dalam kehidupan seorang hamba. Maka pelihara dan
ikatlah nikmat Allah dengan erat, agar nikmat itu tidak dicabut-Nya akibat
kelalaian kita sendiri.
Wallahu a’lam bish-shawab.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar